Apakah kamu percaya pada Takdir?
Apakah penyakit itu hukuman dari para dewa?
Kekuatan apa yang mengatur jalannya sejarah?
***

Apakah kamu percaya pada Takdir?
Kita tahu banyak orang yang percaya. Ada seorang gadis di kelas yang membaca ramalan bintang dalam majalah. Namun, jika percaya pada astrologi, mereka barangkali juga percaya pada Takdir, sebab para ahli astrologi menyatakan bahwa posisi bintang-bintang memengaruhi kehidupan manusia diatas Bumi.
Jika kamu percaya bahwa seekor kucing hitam yang melintasi jalanmu berarti sial–nah, itu artinya kamu percaya pada Takdir, bukan? Ketika kita memikirkan hal itu, beberapa contoh lain mengenai fatalisme muncul (N.B Fatalisme adalah kepercayaan bahwa apa pun yang terjadi telah ditentukan). Mengapa begitu banyak orang mengetuk-ngetuk kayu, misalnya? Dan, mengapa hari Senin tanggal tiga belas dianggap sebagai hari sial? Apakah kamu juga pernah mendengar bahwa banyak hotel tidak mempunyai kamar bernomor 13. Itu pasti karena banyak sekali orang yang percaya takhayul.
“Takhayul.” Alangkah anehnya kata itu. Jika kamu percaya pada astrologi atau hari Senin tanggal tiga belas. Itu adalah takhayul! Siapa yang berhak menyebut kepercayaan orang lain itu takhayul?
Namun, pernah ada salah satu manusia di muka Bumi ini bernama Democritus yang dengan tegas tidak percaya pada takhayul. Dia adalah seorang materialis. Dia hanya percaya pada Atom dan ruang hampa.
Apakah penyakit itu hukuman dari para dewa?
Dewa? Tentunya sedikit orang yang memercayai hal itu sekarang ini? Namun berbeda dengan Tuhan, banyak orang beranggapan bahwa berdoa dapat membantu penyembuhan. Jadi, bagaimanapun, kita pasti percaya bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan atas kesehatan orang-orang.
Pertanyaan terakhir..
Kekuatan apa yang mengatur jalannya sejarah?
Itu pasti orang-orang, ya? Jika ini adalah Tuhan atau Takdir, berarti manusia tidak mempunyai kehendak bebas.
Di negeri-negeri Skandinavia, kita temukan adanya kepercayaan kuat pada “lagnadan”, atau nasib, dalam saga Islandia Edda.
Kita juga menemukan kepercayaan, baik di Yunani kuno maupun bagian-bagian dunia lainnya, bahwa orang dapat mengetahui nasib mereka dari semacam ramalan. Dengan kata lain, nasib seseorang atau sebuah negara dapat diramalkan dengan berbagai cara. Kini, masih banyak orang yang percaya bahwa mereka dapat membaca nasib melalui kartu, rajah tangan, atau meramalkan masa depan lewat bintang-bintang.
Suatu versi khusus Norwegia dalam hal ini adalah meramalkan keberuntungan melalui cangkir kopi. Jika secangkir kopi telah kosong biasanya masih ada sisa yang tertinggal di dasar cangkir. Ini dapat membentuk suatu gambaran atau pola tertentu–paling tidak, jika kita biarkan imajinasi kita bebas. Jika dasar itu menyerupai mobil, itu mungkin berarti bahwa orang yang minum dari cangkir itu akan bepergian jauh dengan mobil.
Dengan demikian,
“peramal” berusaha untuk meramalkan sesuatu yang sesungguhnya tidak dapat diramalkan.
Ini merupakan ciri khas dari segala bentuk ramalan. Dan justru karena apa yang mereka “lihat” itu demikian kabur, sulit untuk menyangkal apa yang dikatakan oleh sang peramal.
Source :
- Dunia Sophie – Jostien Gaarder

